Mengunjungi Benteng Rotterdam dan Museum I La Galigo

Posted on

Pariwisata Indonesia

Siap Pergi ke Benteng Rotterdam dan Museum I La Galigo

Berencana untuk berwisata atau jalan-jalan pasti kita ingin perjalanan yang lancar, akomodasi yang nyaman, hotel murah, makanan enak, tiket pesawat murah, dekat kemana-mana, dan bisa sewa motor atau mobil.

Daya tarik

Di Fort Rotterdam dan Museum I La Galigo terdapat keindahan alam dan keunikan budaya masyarakat setempat. Ada banyak keunikan, mulai dari tingkat desa (desa), kecamatan (kecamatan), kabupaten (kabupaten), dan provinsi.

Di Indonesia, setiap provinsi memiliki karakteristik yang berbeda dan menarik. Setiap provinsi memiliki budaya dan gaya hidup yang berbeda dan unik.

Fort Rotterdam adalah benteng abad ke-17 di Makassar di pulau Sulawesi di Indonesia. Ini adalah benteng Belanda yang dibangun di atas benteng yang ada di Kerajaan Gowa.

Benteng pertama di situs itu dibangun oleh sultan setempat sekitar tahun 1634, untuk melawan perambahan Belanda.

Situs itu diserahkan kepada Belanda di bawah Perjanjian Bongaya, dan mereka sepenuhnya membangunnya kembali antara 1673 dan 1679. Itu memiliki enam benteng dan dikelilingi oleh benteng setinggi tujuh meter dan parit sedalam dua meter.

Benteng ini menjadi markas militer dan pemerintahan daerah Belanda hingga tahun 1930-an. Itu secara ekstensif dipulihkan pada 1970-an dan sekarang menjadi pusat budaya dan pendidikan, tempat untuk acara musik dan tari, dan tujuan wisata.

Berdiri megah di pesisir barat  Makassar , Benteng Rotterdam diakui sebagai landmark kota paling ikonik.

Dengan jejak sejarah dating kembali ke Kingom Gowa dari 16 th abad kolonisasi oleh Belanda, Fort ini telah diam-diam menyaksikan banyak episode dalam sejarah Makassar, memainkan peran yang paling penting dalam perkembangannya.

Pemerintah menjaga kelestarian alam dan menjaga kondisi hutan dengan baik.

Lingkungan juga terjaga dengan baik.

Aktivitas

Mengunjungi Fort Rotterdam dan I La Galigo Museum, kita akan menyaksikan rutinitas aktivitas masyarakat dalam budaya tradisional yang unik. Serta terdapat hidangan dan makanan khas sebagai bagian dari wisata kuliner yang enak dan enak.

Kemegahan dan keasliannya selalu memikat orang-orang yang melihatnya. Seorang jurnalis dari New York Times, Barbara Crossette bahkan menggambarkannya sebagai “Benteng Belanda yang paling terpelihara di Asia”.

Awalnya bernama  Benteng  atau Benteng Jumpandang atau Ujung Pandang, kompleks besar ini pertama kali dibangun pada tahun 1545 di era Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng, raja kesepuluh Gowa.

Awalnya, benteng ini terbuat dari campuran batu dan tanah liat yang dibakar, dan berbentuk persegi khas gaya arsitektur Portugis.

Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin,  raja ke- 14 Gowa, bahan bangunan benteng diganti dengan karst hitam, bebatuan dari sisi gunung kabupaten Maros.

Benteng tersebut juga diperluas dan berbentuk baru menyerupai penyu, sehingga benteng tersebut mendapat nama baru, yaitu: Benteng Pannyua (Penyu ) atau Benteng Penyu.

Bentuknya tidak hanya unik, tapi juga mengandung makna yang dalam. Karena seperti penyu yang hidup di darat dan di laut, kejayaan Kerajaan Gowa juga terbentang di darat maupun di lautan.

Memang, orang Bugis saat itu adalah kekuatan yang diakui dan dihormati di seluruh lautan Indonesia bahkan hingga Selat Malaka

Antara tahun 1655 hingga 1669, pasukan Belanda menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu berada di bawah kekuasaan Sultan Hasanuddin.

Letak kota yang strategis menjadikannya tempat yang ideal untuk mengontrol sepenuhnya jalur perdagangan rempah-rempah, dan menjadi titik awal yang pada akhirnya akan membuka jalur ke laut Banda dan Maluku, Kepulauan Rempah-rempah asli.

Dipimpin oleh Gubernur Jenderal Belanda Laksamana Cornelis Janszoon Speelman, pasukan Belanda melancarkan serangan besar-besaran di Makassar selama setahun penuh.

Pada saat ini, sebagian besar benteng hancur ketika Belanda mulai menduduki tanah tersebut. Akibat kekalahan tersebut, Sultan Gowa terpaksa menandatangani perjanjian Bongaya yang memberi otoritas Belanda kendali penuh atas perdagangan Makassar.

Gubernur Jenderal Speelman kemudian membangun kembali bagian-bagian benteng yang hancur. Tidak hanya menerapkan gaya khas Belanda pada strukturnya, tetapi Speelman menambahkan benteng lain di sisi baratnya.

Benteng ini kemudian diganti namanya setelah kampung halaman Speelman: Rotterdam. Benteng itu tumbuh menjadi pusat penimbunan rempah-rempah dan sebuah Entrepot yang penting.

Akhirnya hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia Timur.

Pada tahun 1938 pemerintah Belanda mendirikan Museum pertama di Sulawesi Selatan yaitu Museum Celebes yang terletak di dalam kompleks Benteng Rotterdam.

Awalnya museum menempati gedung no. 2 saja, yang pernah menjadi kediaman Admiral Speelman. Koleksinya berasal dari berbagai penggalian yang meliputi keramik, mata uang, emas dan perhiasan, dan lain-lain.

Pada saat Jepang menduduki Makassar selama Perang Dunia II, Museum Celebes sudah menempati tiga bangunan kompleks.

Dalam koleksinya ditambahkan peralatan kayu, beberapa jenis kapal, peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, alat musik, persenjataan, dan banyak lagi lainnya.

Setelah perang usai, museum ini secara resmi didirikan kembali pada tahun 1970, dengan nama yang sekarang dikenal, yaitu: Museum La Galigo.

La Galigo adalah Pajung Lolo  atau Pangeran Kerajaan Luwu pada  abad ke – 14 yang juga merupakan anak dari Sawerigading Opunna Ware, seorang pahlawan Bugis yang legendaris.

Nama itu juga mengacu pada I La Galigo yang terkenal  , puisi epik terpanjang di dunia. Memamerkan berbagai koleksi dari Museum Sulawesi awal serta tambahan lainnya termasuk koleksi kerajaan Sawito, Wajo, Mandar, Luwu, Bone dan lainnya, Museum saat ini menempati gedung no.2 dan no.10 di dalam kompleks Fort Rotterdam.

Di tempat ini juga terdapat event atau kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun baik nasional maupun internasional.

Aksesibilitas

Perjalanan menuju Fort Rotterdam dan Museum I La Galigo kini sangat mudah. Kita bisa masuk melalui berbagai moda transportasi.

Akses untuk pergi ke Benteng Rotterdam dan Museum I La Galigo:

Terletak tepat di jantung kota Makassar , tidak sulit untuk mencapai Benteng Rotterdam. Anda bisa naik angkutan umum lokal atau  pete-pete , atau taksi untuk sampai ke benteng. Jika Anda kebetulan berada di Pantai Losari, Anda bisa berjalan-jalan di bulevar dan menikmati pemandangan sebelum mencapai Fort Rotterdam.

Kondisi infrastruktur semakin membaik. Mulai dari jalan raya, bandara, jalan setapak, pelabuhan, jembatan, tangga, bahkan beberapa tempat bisa dijangkau dengan jalan tol.

Kita bisa berkunjung dengan pesawat, mobil, kapal, bus, sepeda motor dan sepeda. Suatu saat, kita bisa naik kereta. Kita juga bisa berjalan dengan bebas.

Kenyamanan

Di Fort Rotterdam dan Museum I La Galigo, karena teknologi semakin baik. Lokasi mini market, pertokoan (warung kedai), ATM, Bank BRI BCA BNI Mandiri, Bank BTPN Nagari BJB, supermarket, dan restoran dapat dengan mudah kita temukan. Jadi kita tidak akan kelaparan atau kekurangan barang yang diperlukan.

Saran sebelum mengunjungi Fort Rotterdam dan Museum I La Galigo:

  • Museum buka setiap hari dari Minggu hingga Senin mulai pukul 08.00 hingga 15.00 waktu setempat.
  • Biaya masuk Rp 3.000.
  • Silakan berkonsultasi dengan petugas yang bertanggung jawab jika Anda ingin mengambil gambar dari beberapa koleksi museum, karena beberapa di antaranya halus dan langka.
  • Harap jangan menyentuh koleksi museum karena beberapa di antaranya halus dan rapuh.

Jika Anda sakit dan membutuhkan pertolongan, Anda juga bisa mengunjungi klinik, apotek apotek (apotek), dokter praktik, rumah sakit, dan puskesmas.

Di tempat ini kita juga bisa mencari tempat ibadah seperti masjid, gereja, dan lain-lain.

Akomodasi

Mencari tempat menginap di Fort Rotterdam dan I La Galigo Museum sangatlah mudah. Kita bisa menginap di homestay, hotel, losmen, hostel dan tempat lainnya.

Untuk mendapatkan penginapan dengan harga yang murah dan pasti nyaman silahkan simak dibawah ini:

Booking.com

Pengalaman dan Ulasan

Sudah banyak pengunjung yang mengunjungi Benteng Rotterdam dan Museum I La Galigo, banyak cerita menarik yang diceritakan. Seperti rasa puas, senang, mau datang lagi, tidur nyenyak, dan hampir tidak ada yang kecewa atau komplain datang kesini.

Jadi, pengunjung akan mengetahui bagaimana menemukan hotel terbaik, di mana tepatnya berada, mengapa luar biasa, berapa tarif dan tarifnya, siapa orangnya, siapa yang harus ditanyakan, dan kapan waktu terbaik untuk berkunjung.

Tempat wisata tersebut bisa kita kunjungi dari Tanjung Pinang, Tanjung Redep, Tanjung Selor, Tapak Tuan, Tarakan, Tarutung, Tasikmalaya, Muara Bungo, Muara Enim, Muara Teweh, Muaro Sijunjung, Muntilan, Nabire, Negara, Nganjuk,

That’s all the information we provided, hopefully useful.